The Breeze, Mall Altenatif untuk Rekreasi dan Kuliner

beritasatu.com - Bagi masyarakat kota besar macam Jakarta, dan sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan juga Bekasi, kurangnya taman kota yang baik, membuat mall jadi pilihan tempat untuk melepas kepenatan dan refreshing setelah seminggu bekerja. Makan bersama keluarga, nonton film si bioskop, ataupun sekadar cuci mata dan nongkrong dengan teman.

Jalan-jalan ke mall tampaknya sudah menjadi hobi kebanyakan warga Jakarta. Sebuah studi menyebutkan rata-rata orang Jakarta, mayoritas perempuan, menghabiskan sekitar tiga jam setiap kali mengunjungi mall. Maka tak heran jika jumlah mall tumbuh pesat di Jabodetabek, utamanya di Jakarta.

Data 2014 mencatat bahwa jumlah pusat belanja atau mall di Jakarta saja mencapai 170 lebih. Menurut Planolog Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, jumlah mal di Jakarta itu sudah melebihi batas ideal. Hal ini membuat Jakarta menjadi kota dengan mal terbanyak di dunia. Wajar jika kemudian Gubernur DKI Joko Widodo pada 2014 sempat mewacanakan kebijakan moratorium pembangunan mall di Jakarta.

Wagub DKI saat itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan pembangunan mal tidak dapat diteruskan karena kondisi infrastruktur tidak memadai. Ahok menilai mal di tengah kota sebagai biang kemacetan dan menyarankan agar pembangunan mal dilakukan di pinggiran seperti Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

Kebijakan moratorium pembangunan mall baru di Jakarta membuat orientasi pengembang. bergeser ke pinggiran, ke kawasan atau kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

Tangerang misalnya, menurut catatan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Banten, hingga kuartal I 2014 memiliki 18 pusat belanja baru, dari total 30 pusat belanja di Banten. Seperti halnya di Jakarta dan kota penyangga lainnya, pusat belanja atau mall memiliki konsep utama yang sama, yakni memanjakan pengunjungnya. Namun, setiap mall memiliki keunikan masing-masing yang menjadi unggulan untuk menarik konsumen.

Salah satu mall di Tangerang yang memiliki keunikan unggul yang perlu Anda sambangi adalah The Breeze di BSD City. Dengan konsep open air lifetime mall, The Breeze yang terintegrasi dengan pemandangan danau alami Sungai Cisadane ini, menjadi tempat hiburan yang memang tampil beda.

The Breeze yang dibangun Sinar Mas Land dan dirancang bersama Jerde (foreign architecture & urban planning consultant) dan Arcadia (local architecture & design consultant) ini merupakan mall alternatif dengan fasilitas rekreasi dan beraktivitas dalam ruang terbuka hijau.

Berdiri di atas lahan seluas 13, 5 hektar (ha), setiap sudut area The Breeze menampilkan harmonisasi keramahan lingkungan. Terbagi dalam dua sisi yaitu Lake Level serta Sky Level. The Breeze memiliki ruang pedestrian yang nyaman untuk pejalan kaki, water fiturs, bicycle track, thematic garden, danau seluas 2, 5 hektar dan beragam sarana pendukung yang lain.

The Breeze menampilkan berbagai tenant seperti supermarket, restoran, toko elektronik,romantic hall and lounge, pusat kebugaran, tempat hiburan, playland untuk anak-anak indoor & outdoor, hingga spa dan klinik kecantikan. Semua tenant ini berdiri apik di antara kolam ikan dan danau, yang terhubungkan dengan jembatan kayu.

Berbagai macam restoran dan cafe ternama yang mengisi The Breeze, antara lain Bebek Bengil, Chakra, Signora Pasta, Rumah Makan PHI, Osaka Mo, Sushi Tei, Oldtown White Coffee, Gubug Makan Mang Engking, Fish & Co Resto, Blueribs Resto, Meat Me Resto, Excelso, Torico Japanese Resto, Baskin Robbins Ice Krim, Daily Fresh, First Love Patisserie Café, Gong Cha Café.

Untuk tenant nonresto ada The Bodyshop, Jade Leaf Health and Wellness Center, Chipmunks Playland, Hall and Lounge, Erafone, Hasami Kushi Japanese Style Hair Salon, TokoPDA. com, Samsung Store, The Vertex by Infinite Apple Store, Guardian Store, serta banyak lagi brand terkenal yang lain.

Meski berkonsep ruang terbuka, arsitektur dan konstruksi The Breeze tetap memberikan kenyamanan dan keamanan ketika hujan mengguyur. Pemasangan tenda raksasa di atas area tengah selain menaungi pengunjung dari terpaan hujan juga memperlancar arus udara sehingga suhu ruangan tetap nyaman dan tidak lembab, tanpa bantuan AC. The Breeze pun dirancang dengan memperhatikan arah matahari dan angin, serta tritisan atap yang lebar untuk mengantisipasi curah hujan yang tinggi agar tidak tampias.

Karena tempatnya yang begitu syahdu dan romantik apalagi di malam hari, The Breeze juga sering digunakan untuk wedding party bertema outdoor.

The Breeze yang mulai diluncurkan Juli 2013 ini juga dilengkapi dengan area parkir yang cukup luas dengan kapasitas parkir lebih dari 800 mobil.

Discover more articles like this