Visi Michael Widjaja dalam Diferensiasi Digital Sinarmas Land

29 June 2016

Jakarta, HarianTerbit.com - Faktor pembeda alias diferensiasi yang menjadi kunci sukses dalam bisnis properti. Itulah yang dilakukan oleh Sinarmas Land (SML) yang menerapkan konsep teranyar dengan mengusung Integrated Smart Digital City di BSD City yang berlokasi di Serpong, Tangerang Selatan.

Irvan Yasni, Chief Technology Officer SML, mengungkapkan, perusahaannya mengusung konsep digitalisasi sejak tahun 2014, khususnya di kawasan BSD City yang bernaung di bawah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE).

“Sejatinya ini visi dari CEO Sinarmas Land, Michael Widjaja. Beliau punya visi menjadikan BSD City sebagai integrated smart digital city, yakni kota pintar terintegrasi berbasis teknologi yang mampu memenuhi kebutuhan hidup penduduknya secara mandiri,” ujar Irvan.

Karenanya, berangkat dari pemikiran tersebut, tim SML pun bergerak cepat mewujudkan visi pemimpinnya. Sama seperti aplikasi digitalisasi di Sinarmas Digital Ventures (SMDV), SML berupaya mengembangkan sebuah ekosistem digital yang memungkinkan penduduknya menetap, belajar, sampai membuka usaha di BSD City dengan ditunjang infrastruktur, lingkungan dan budaya yang berbasis teknologi.

“Jadi transformasi ini harus dilakukan. Karena di luar sana digital distractor tengah berlangsung. Lihat yang terjadi pada ojek, taksi, toko online dan sebagainya. Karena itu, information and communication technology (ICT) harus menjadi satu kesatuan saat kami membangun kota atau properti,” ungkap Irvan.

Jalan panjang pun telah ditempuh sebelum mewujudkan impian SML. Tim yang terdiri dari lintas divisi seperti pengembangan bisnis, master plan, komunikasi pemasaran, keuangan, teknologi informasi, hubungan pemerintah, dikirim ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan dan Jepang. Tujuannya tak lain demi mengintip bulat lonjong wujud smart city yang berbasis teknologi.

Satu hal yang menjadi titik berat pengembangan digital city di BSD City, lanjut Irvan, adalah penekanan pada aspek pemenuhan kebutuhan manusia, jadi tidak fokus pada teknologi itu sendiri. “Semua ini untuk memudahkan penduduk BSD City memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari,” kata Irvan.

Peta jalan untuk mewujudkan impian besar itu pun digelar sejak tahun 2014. Di tahap awal BSD City membangun berbagai infrastruktur yang diperlukan, seperti serat optik sebagai basis Internet berkecepatan tinggi, pembangunan menara pemancar telekomunikasi (BTS), sampai infrastruktur komputasi awan.

“Kemudian 2014-2015, kami memikirkan komunikasinya karena komunikasi itu kunci utamanya. Jadi semua harus running dengan satu network environment. Intinya, bagaimana mungkin perusahaan teknologi mau berkantor di sini kalau Internetnya lelet. Maka, kami genjot pembangunan serat optik dan BTS,” ujar Irvan.

Hasilnya pun menurut Irvan sudah mulai nampak saat ini. Dari total kawasan BSD City seluas 6 ribu ha, 1.500 ha di bagian timur seluruhnya sudah terjangkau serat optik. Adapun saat ini sedang digelar pembangunan serat optik tahap dua sepanjang 91 km yang mencakup BSD bagian barat seluas 2 ribu ha dengan target penyelesaian akhir Juni tahun ini. Selanjutnya di tahun 2020 rencananya akan digelar pembangunan tahap ketiga di area seluas 2.500 ha.

“Penyelesaian tahap ketiga sendiri bergantung pada crowd.  Begitu crowd memadai, maka pembangunan akan dilakukan serentak,” ucap Irvan.

Dalam waktu bersamaan, digelar pula pembangunan hotel BTS, yakni menara BTS yang bisa disewa oleh berbagai operator telekomunikasi. Irvan menyebutkan, dari total rencana 74 menara, saat ini sudah terbangun 26 menara hotel BTS.

Adapun demi menunjang kebutuhan perusahaan-perusahaan teknologi yang akan berkantor di BSD City, SML telah membangun fasilitas data centre sebagai salah satu pilar penunjang layanan komputasi awan.

SML lebih jauh lagi telah mengaplikasikan konsep Internet of Things (IoT) yang memungkinkan berbagai perangkat digital terkoneksi dan mampu bertukar data.

“Ini yang telah kami bangun duluan karena menjadi kebutuhan. Kami telah memasang berbagai sensor di gedung, jalanan, dan beberapa lokasi lainnya. Dalam tahap satu kami gunakan untuk trafik, perparkiran dan security surveillance. Jadi orang bisa memantau lalu lintas, lahan parkir dan keamanan propertinya langsung dari gadgetnya. Ke depan, ini akan berkembang ke berbagai aspek lainnya,” Irvan menjabarkan.

Nah, “pintu masuk” untuk mengakses IoT itu pun telah disiapkan SML melalui sebuah aplikasi multifungsi bertitel One Smile. Melalui aplikasi ini penduduk BSD dapat memantau berbagai kondisi di atas, serta melakukan pembayaran iuran pemeliharaan lingkungan, pemesanan tempat restoran, tiket bioskop, pembayaran sewa bagi tenant di properti komersial dan perkantoran BSD City, dlsb. “Aplikasi ini lebih lanjut akan mencakup fitur e-wallet, community platform, loyalty program, dan business performace management solution. Jadi One Smile ibaratnya superportal untuk citizen di sini dan netizen, karena bisa meng-cover semua kebutuhan sehari-hari mereka,” Irvan memaparkan.

Terakhir, BSD City pun saat ini tengah mengembangkan konsep pusat kreatif berbasis teknologi laiknya Silicon Valley di Kalifornia, Amerika Serikat. Pusat industri kreatif dan teknologi itu direncanakan akan berlokasi di kawasan bisnis BSD City yang terentang seluas 737 ha. Kawasan pusat teknologi ini sendiri akan menghubungkan berbagai universitas, pusat bisnis dan perusahaan teknologi yang berbasis di BSD City, sehingga tercipta sebuah ekosistem digital city sebagaimana diimpikan Michael Widjaja.

“Konsep kami bangun creative city ala Silicon Valley itu bukan hanya satu kawasan tetapi menyebar dan saling terhubung. Jadi bukan physically satu lokasi, tapi tepatnya mereka tinggal di sini, sekolah, kuliah lalu bangun bisnis di sini. Kemudian nanti ada akselerator yang akan bantu bisnis mereka jadi besar. Konsep ini akan kami luncurkan segera,” Irvan menegaskan.

Yang menarik, ternyata raksasa sebesar SML tidak menabukan diri untuk menggandeng berbagai pihak ketiga dalam membangun infrastruktur ICT. Di antaranya SML menggandeng Huawei untuk pembangunan jaringan serat optik, bekerja sama dengan NTT untuk pembangunan komputasi awan, dan merangkul Kresna Investment untuk pengembangan One Smile.

Meski demikian, tak ketinggalan SML bersinergi dengan berbagai anak usaha Sinarmas lainnya dalam pembangunan infrastruktur digital yang diperlukan. “Data centre itu kami menaruhnya di Teknovatus, sister company kami di data centre. Pengoperasian fiber optic to home tadi juga pakai sister company kami, MyRepublic. Lalu untuk payment e–wallet yang ada di dalam One Smile, kami menggunakan Dimo Pay dan Uangku, startup yang didanai Sinarmas,” ungkap Irvan.

Irvan mengaku, dengan model kerja sama dengan pihak ketiga dan unit bisnis Sinarmas lainnya, maka biaya investasi infrastruktur digital bisa ditekan. Adapun timbal baliknya kepada para penyedia layanan berupa fee yang dibayarkan oleh pengguna, yaitu penduduk BSD City. “Jadi fee-based income, dari situ profitnya,” kata Irvan.

Konsep akbar digital city ini sendiri diharapkan bisa menjadi diferensiator yang kuat antara BSD City dan kompetitor di sekitarnya. “Sekarang berbagai tool pemasaran kami sudah mengampanyekan ini. Saat ini Gen X dan Y yang mulai mencapai usia mapan sudah banyak tertarik dengan konsep digital city. Jadi kami yakin konsep yang kami usung akan disambut dengan baik oleh pasar,” kata Irvan seraya menyebutkan, dalam setahun BSD City bisa membangun 1.500 unit apartemen dan rumah tinggal.

Lebih lanjut, jika proyek digital city ala BSD City ini sukses, SML akan mereplikasi ke berbagai proyek properti lainnya. “Sekarang kami masih fokus untuk yang BSD City ini dulu, sebagai pilot project, nanti yang lain menyusul.”
 

 

(Anugrah/Swa)

© Copyright bsdcity.com 2020 | Privacy Policy | Terms of Use
© Copyright bsdcity.com 2020 | Privacy Policy | Terms of Use