Menakar prospek saham BSDE

29 April 2015

JAKARTA. Demi memuluskan rencana bisnis tahun ini, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencari modal melalui penerbitan obligasi global senilai US$ 250 juta. Aksi korporasi itu melalui anak usahanya, Global Prime Capital Pte Ltd. Menurut rencana, BSDE akan menggunakan dana obligasi untuk mengakuisisi lahan baru, pengembangan proyek dan keperluan umum lain.

Penerbitan obligasi diperkirakan bisa berdampak negatif bagi perusahaan. Analis Buana Capital Suria Dharma bilang, beban keuangan perusahaan bakal meningkat di tengah rupiah yang masih melemah terhadap dollar AS.

Meski demikian, kata Suria, perusahaan dapat mengantisipasi dengan melakukan lindung nilai alias hedging, sehingga tidak terlalu berdampak pada forex loss atau rugi selisih kurs.

Selain itu, penerbitan obligasi bisa mengerek rasio utang BSDE. "Per Desember 2014,  debt equity ratio (DER) perusahaan 0,2 kali, dan akan meningkat pada tahun ini," tutur Suria. Namun, ia menghitung, DER BSDE masih di bawah satu kali alias masih batas aman.

Analis berpandangan, prospek bisnis BSDE tahun ini masih bagus. Analis Samuel Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mengatakan, BSDE merupakan pengembang yang memiliki cadangan lahan atau landbank cukup besar untuk ekspansi.

Jadi, kinerja perusahaan masih berpotensi tumbuh. "Kami optimistis penjualan apartemen dari beberapa proyek high rise  berkontribusi signifikan pada pendapatan BSDE tahun ini," ujar Akhmad dalam riset 8 April 2015. 

Suria mencatat, awal tahun ini, BSDE telah meluncurkan beberapa proyek baru, seperti Cassea Tower di Februari lalu dan perumahan Regentown pada Maret 2015. Perseroan juga segera meluncurkan tiga proyek baru di Jakarta.

Suria  memperkirakan, tiga proyek itu akan menghasilkan marketing sales Rp 1,44 triliun atau 19,2% dari target marketing sales tahun ini, Rp 7,5 triliun. Selama kuartal I-2015, BSDE sudah meraup marketing sales Rp 2,2 triliun, atau 30% dari target tahun ini.

Industri masih tumbuh

Analis Indo Premier Securities Natalia Sutanto juga optimistis terhadap performa sektor properti tahun ini. Ia memperkirakan, perusahaan properti bisa menorehkan pertumbuhan penjualan 15% menjadi Rp 43,9 triliun. "Faktor pendorongnya, rencana pemerintah melonggarkan aturan uang muka atau loan to value (LTV)," tulisnya dalam riset 9 April 2015.

Meski begitu, masih ada tantangan,  yakni rencana pemerintah mengutip Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) rumah mewah. Akhmad melihat, dalam jangka menengah, kebijakan ini bisa memperlambat permintaan.

Tapi, Natalia yakin, tahun ini, BSDE dapat mempertahankan penjualan. Perusahaan memiliki diversifikasi bisnis, sehingga bisa mengurangi risiko tersebut.

Kalkulasi Akhmad, tahun ini, BSDE bisa mengantongi pendapatan Rp 6,85 triliun, dan laba bersih Rp 3,28 triliun. Suria menyatakan, pendapatan BSDE bisa mencapai Rp 5,99 triliun, dan laba bersih sejumlah Rp 3,09 triliun.

Ketiga analis tersebut kompak merekomendasikan beli  saham BSDE. Surya menargetkan harga di Rp 2.450, sementara target Akhmad di Rp 2.350 dan Natalia di level Rp 2.500 per saham.

Editor: Yudho Winarto
© Copyright bsdcity.com 2020 | Privacy Policy | Terms of Use
© Copyright bsdcity.com 2020 | Privacy Policy | Terms of Use